Langsung ke konten utama

Hukuman Dilipatgandakan Bila Kerabat Umar Melanggar

Umar menyadari bahwa ujian yang paling berat yang dia hadapi adalah hubungannya dengan anggota keluarganya. Dia harus bersikap menyamakan mereka dan kamu muslimin yang lain di depan hukum atau peraturan yang dia buat.

Suatu hari ketika dia membuat undang-undang atau larangan, maka dia mengumpulkan keluarganya dan berkata: “Saya telah melarang umat mengenai hal ini. Mereka akan melihat kalian, tak ubahnya bagai burung melihat daging. Maka jika kalian jatuh, mereka juga akan jatuh. Dan jika kalian takut, maka mereka juga akan merasa takut”.



Dia meneruskan lagi: “Sungguh demi Allah, tak seorangpun di antara kalian yang melanggar apa yang saya larang, saya akan melipatgandakan hukumannya disebabkan hubungan keluarga dengan saya. Nah, siapa yang hendak melakukan di antara kalian, silakan dan terserah. Dan siapa yang hendak menghindarinya, maka silakan dan terserah pula …!”


Ibroh: 

      Pejabat hendaknya memahamkan keluarganya bahwa mereka adalah contoh ikutan dan teladan bagi rakyat. Kekeluargaan tidak berarti bahwa keadilan dapat dilangkahi dan diinjak-injak, dan hukuman dapat diatur atau dibatalkan.

Postingan populer dari blog ini

Hadiah di Zaman Kita Adalah Suap

Amru bin Muhajir menuturkan: Pada suatu hari Umar bin Abdul Aziz menginginkan sebuah apel. Katanya: “ Alangkah enaknya jika kita punya apel. Baunya harum dan rasanya enak. ” Kemudian seorang lelaki dari keluarganya pergi untuk menghadiahkan sebuah apel untuknya. Ketika utusan saudara Umar datang membawakan apel untuknya, dia berkata: “ Betapa harum baunya dan betapa bagus kulit buahnya. Bawa kembali apel wahai anak muda dan sampaikan salamku kepada si fulan pemberi apel ini. Katakan padanya bahwa hadiah yang dia berikan telah kami terima sesuai dengan yang dia niatkan ”. Aku (Amru bin Muhajir) berkata: “ Wahai Amirul Mukminin, pemberi apel itu adalah anak pamanmu dan seorang laki-laki dari anggota keluargamu, sedang engkau sudah mengetahui bahwa Nabi saw mau memakan hadiah, tetapi beliau tidak menerima sedekah ”. Umar menjawab: “ Celaka kamu, sesungguhnya hadiah pada zaman Nabi saw adalah benar-benar hadiah, tapi pada zaman kita ini, hadiah itu adalah suap (risywah) ”.

Anakku, Hak Keluarga Bukan Pada Harta Rakyat!

Pada suatu hari, sampailah harta kekayaaan dari zakat dan jizyah yang dikirim dari beberapa daerah ke kota Madinah. Maka datang puteri Umar bin Khattab, Hafshah ra, kepadanya meminta bagian. Dia berkata sambil bergurau: “ Wahai Amirul Mukminin, keluarkanlah hak kaum kerabat anda dari harta ini! Bukankah Allah telah berpesan mengenai kaum kerabat? ” “ Anakku ”, ujar Umar bersungguh-sungguh, “ Hak kaum kerabat diambil dari harta ayah sendiri. Adapun harta ini adalah harta kaum muslimin. Ayo, berdirilah dan pulanglah ke rumahmu! ” Memang, Umar mendapat didikan dari Muhammad RAsulullah SAW. Ia melihat gurunya berkata kepada puteri yang paling disayanginya: “ Tidak wahai Fatimah, di antara kaum muslimin, masih ada yang lebih membutuhkan harta ini daripada kamu! ”. Permintaan puterinya tidak dipenuhi dan harta itu diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan.

Umar bin Khattab: "Pukullah Anak Bangsawan Ini!"

KISAH : Tentang ucapannya untuk memberlakukan hukuman qishash bagi pejabat yang diangkatnya, Umar sungguh tidak bermain-main dengan ucapannya itu. Dan ini benar-benar terjadi pada diri Gubernur Mesir, Amr bin 'Ash. Suatu hari, seorang pemuda Mesir datang menghadap khalifah dengan wajah tampak duka dan menderita. Dia mengadu kepada khalifah: "Wahai Amirul Mu'minin, beginilah penderitaan orang yang melindungkan dirinya kepada anda … !" Setelah mendapat penjelasan, tahulah Umar bahwa pemuda ini telah dianiaya oleh Muhammad putra Gubernur Amr bin 'Ash. Ia dipukul oleh putra gubernur itu berkali-kali. Penyebabnya adalah karena dia mengalahkan Muhammad bin Amr dalam suatu perlombaan lari. Muhammad naik pitam dan mendera punggungnya dengan cambuk sambil berkata: "Nah, terimalah ini. Tidak tahukah kamu bahwa saya ini anak seorang bangsawan!" Amirul Mu'minin pun memanggil 'Amr bin 'Ash bersama putranya, Muhammad. Marilah kita mendengarkan ...